Friday, February 29, 2008

Bahasa ibumu masih bagus?

Hari Senin kemarin, aku kebetulan menonton acara TV NHK "Eigo de shaberanaito"(acara hiburan bahasa Inggris).
Di dalam acara itu, ada tiga tamu yang bersangkutan bahasa Inggris. Salah satu tamu, interpreter(juru bahasa) orang Jepang mengatakan kepada salah satu moderator orang Amerika, Patrick, "Kamu bahasa Inggrisnya bagus ya. Belajar di mana?" Orang-orang di situ semua ketawa karena yang ditanya orang Amerika, 'kan pasti jago bahasa Inggris. Patrick pun bingung. Maksudnya Bapak apa?

Katanya Bapak, Kalau orang tinggal lama di negara lain, bahasa ibunya jadi aneh. Kalau Patrick sudah 10 tahun lebih tinggal di Jepang dan sudah lancar bahasa Jepang juga, tetapi katanya Bapak, bahasa Inggris juga masih bagus sekali. Maksudnya intonasinya, lafalnya, dan lain-lain. Jadi muncul pertanyaan begitu.


Dengar cerita itu, aku juga ingat masa SMU. Di SMU-ku ada guru bahasa Inggris dari Inggris. Kalau tidak salah, dia tinggal di Jepang dua tahun dan dia mengatakan waktu ketemu dengan saudara dari Inggirs, dia dikatakan bahasa Inggrisnya jadi jelek, intonasinya aneh, kayak orang Jepang gitu.

Hanya dua tahun saja, bahasa bisa berubah? Iya, kalau orang Jepang pun pindah daerah, pasti ngomongnya terpengaruh dialek daerah. Mungkin, guruku juga terpengaruh oleh bahasa Inggris aneh yang dikeluarkan dari mulut murid setiap hari.
(Di jepang, biasanya walaupun ada kelas bahasa Inggris, murid jarang sempat berbicara bahasa Inggrsi, tetapi Sekolahku punya program internasional,jadi ada banyak kelas bhs Inggris dan murid punya banyak kesempatan berbicara bahasa Inggris.)

Terus, balik ke acara TV lagi. Lalu, jawaban Patrick bagaimana?
Katanya, dia setiap hari latihan shadowing baik bahasa Inggris maupun bahasa Jepang.

Aku kagum sekali. Bahasa Inggrisnya Patrick sebetulnya bukan seadanya melainkan hasil dari latihan setiap hari. Jadi, pertanyaan Bapak itu tajam sekali ya. Dan pasti Patrick juga tahu keperluan usaha supaya bahasa ibunya tetap bagus.
Dan walaupun bahasa Jepang juga sudah sangat bagus, dia masih lanjut latihan.

Aku betul-betul kagum. percakapan Bapak dan Patrick cepat selesai dan topiknya diganti juga(karena topik utama hari itu bukan ini). tapi, aku tidak bisa lupakan kata2 Patrick.

Aku juga sebenarnya harus berlatihan supaya bahasa Indonesiaku jadi lebih bagus,terutama dalam percakapan. Aku juga mau coba lagi shadowing dalam bahasa Indonesia.(sejujurnya, aku pernah coba latihan shadowing, tapi ga bisa lanjutin, selalu mikkabozu nih)

Kalau mau nonton acara ini,
英語でしゃべらナイト
Setiap hari Senin, pukul 23.00-23.30(NHK総合)

dan, acara yang aku tonton ini disiar ulang pada 29 Feburuari(hari ini dong!)
malam pukul 1.40(jumat malam)

*shadowing
: salah satu cara latihan untuk menginkatkan kemampuan bahasa asing,
 terutama dilakukan oleh calon interpreter.

Thursday, February 28, 2008

Bikin Miso part2

Pada akhir minggu kemarin, akhirnya kami membuat miso.

Jumat malam, aku merendam kacang kedalai 2 kilo dalam air.


Sabtu pagi, aku mulai merebus kacang. Rebusnya lama banget, kira-kira 4 jam lebih. Karena panci-panciku kecil, aku kudu merebus 2 kali.

Sesudah semua direbus. kacangnya dibiarkan sampai dingin. Cukup satu jam atau dua jam. Selama menunggu kacangnya jadi dingin, kami campur koji(ragi) dengan garam.

Sampai di situ, sudah menjelang sore...
Kami baru bisa mulai numbuk kacangnya dengan mixer dari jam 3. Kacangnya harus ditumbuk selama kacangnya masih panas.
Setelah ditumbuk, kacangnya dibiarkan sampai dingin. Cukup satu jam atau dua jam. Selama menunggu kacangnya jadi dingin, kami campur koji(ragi) dengan garam.


Kemudian, kita campur dengan ragi dan garam, lalu masukkannya di dalam tempat.


Kali ini, bahan2nya seperti di bawah.

kacang kedalai 2 kilo
koji(ragi beras) 3 kilo
garam 1 kilo

jadinya kira-kira 10 kilo miso.

Sekarang tempat misonya ditaruh di kamar. Semoga berhasil jadi miso yang enak. Jangan sampai jadi miso berjamur penuh...

(* dikoreksi cara membuat pd tgl 4 Agustus 2012)

Friday, February 22, 2008

Tango

Baru-baru ini, aku mengajari seorang Bapak bahasa Indonesia. Bapak itu kemarin bertugas ke Indonesia sepuluh hari. Dan aku dapat oleh-oleh dari bapak itu.

Oleh-olehnya ini. Tango!!


Sebelum berangkat ke Indonesia, kita sudah bicara tentang kue-kue Indonesia.
Katanya, waktu memilih oleh-oleh, Bapak selalu bingung beli apa. Soalnya takut nanti rekan2nya dan keluarganya jadi sakit perut(Sory ya, biasanya orang Jepang khawatir kalo makan masakan Indonesia, nanti sakit perut atau ga). Jadi, katanya dia selalu milih kue yang dijual di supermarket.

Jadi, aku rekomendasikan Tango sama Bapak. Waktu aku ada di Depok, kue itu salah satu kesayanganku. Ada juga teman yang makan Tango sebagai makanan pokok di Indonesia. Soalnya dia awalnya nga cocok sama masakan Indonesia. Jadi, dia sering makan tango sebagai makan pagi, makan siang, dan makan malam, gila...

Sejujurnya aku juga sering makan tango dan top dan,, apa namanya kue yang kayak top, kemasan merah, aduh namaya nga ingat...pokoknya kue-kue seribuan ya.

Dan, akhirnya aku dapat Tango. Natsukasii aji! (bisa bilang "rasanya kangen" dlm bhs Indoesia?)

Friday, February 15, 2008

Bikin Miso

Pada tanggal 11 Februari, aku dan suamiku main ke rumah teman suami di Kashiwa, Chiba.

Istrinya teman itu jago memasak, bisa bikin roti dibuat dg ragi alam(Tennen kobo pan)(bikinnya dari bikin ragi loh), bikin masakan makrobiotik, dan masakan yang dibikin dengan biji-bijian(zakkoku), pokoknya jago bikin masakan sehatlah.

Dulu, waktu aku dan suami main ke rumahnya, kami makan malam bersama di rumah. Waktu kami minum sup miso(miso shiru), istrinya bilang, "itu dibikin dengan miso(taoco Jepang) yang aku bikin sendiri." Saya kaget,oh bisa bikin sendiri! lagian enak banget supnya.

Kemudian, sebulan lewat. Ada kabar dari teman suamiku. Katanya mau bikin miso tgl 11 Februari. kami langsung menjawab mau ikut! Lalu jauh-jauh ke rumah temannya(dari rumah ke sana 2 jam dg kereta!).

Ternyata cara bikin miso sangat sederhana. Pertama rebus kacang kedelai. Lalu kalau kacangmya sudah empuk, ditumbuk(lebih baik pake food processor).
yang Kedua, kalau kacang sudah jadi cukup dingin, campur dengan ragi beras(kome koji) dan garam yang sudah dicampurkan lebih dahulu.


foto: lagi campur2 kacang dengan ragi dan garam

Sesudah itu, campuran(yang akan jadi miso)nya dimasukkan ke tempat. Itu ditaruh di dalam rumah atau boleh juga di beranda setahun. Selama setahun, tidak usah buka dan ganti tempat. Biar saja setahun.


foto: baru selesai masukkan campuran kacang dan ragi dan garamnya

Aku senang bikin miso rame-rame dan dipengaruhi oleh istrinya.

Setelah balik ke rumah sendiri, kami langsung pesang kacang dan koji dan garam ke toko yang direkomendasi teman.

Kemarin, bahan2nya sudah sampai. Kapan bikin ya? Oh, sebelum itu, aku kudu beli tempat misonya.

Monday, February 11, 2008

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring

Baru-baru ini, Pusat Bahasa membuka KBBI online.
Namanya KBBI Daring.
Daring artinya "Dalam jaringan"(online). Aku baru tahu kata itu.

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php


Aku senang sekali karena menanti2 harinya. Hampir setiap hari aku buka KBBI yang berat banget. Mulai sekarang aku tidak usah angkat2 kamus seberat itu.

Friday, February 08, 2008

Salju!



Baru-baru ini, Tokyo sering turun salju. Akhir minggu kemarin, saljunya turun lumayan banyak(Potonya kurang jelas. kira-kira 5cm ya salju bertumpuk). Maksudnya, kalo di Tokyo, boleh dibilang "lumayan banyak". Oleh karena itu, banyak kereta terlambat dan ada banyak kecelakaan juga. Kalo daerah2 yang turun salju banyak, tidak ada masalah kalo salju segitu. Tapi, karena di Tokyo jarang ketika turun salju, jadi topik rame-rame.

Aku juga merasa kangen sama kampungku. Kampungku, Fukui dan tempat kuliahku, Kanazawa(di Ishikawa) juga termasuk daerah yang turun salju lumayan banyak. Waktu masa kecil, saljunya lebih banyak dari sekarang. Jadi, waktu ke SD, aku sering ke sekolah bukan lewat jalan tapi lewat di atas sawah. Salju turun banyak sampai bertumpuk kira2 1 meter dan karena dingin, saljunya membeku sehinnga orang bisa jalan di atas sawah yang kelihatan kayak daratan salju. Soalnya tempatku kampung banget, di sekitar rumahku terdapat gunung dan sawah saja.

Walaupun merasa kangen, sejujurnya aku ga mau pulang ke kampung karena aku ga kuat kedinginan. Sekarang aku kangen ama panasnya di Indonesia.