Sunday, May 30, 2010

Titik Pertemuan dengan Masyarakat

Bayiku sudah lima bulan.
Sejak dia dua bulan, aku kadang-kadang jalan-jalan membawanya dalam dorongan atau digendong di depan. Waktu jalan-jalan, aku sering disapa orang yang tak kenal.

"Wah, bayinya lucu ya. Berapa bulan sekarang?"

Kebanyakan menyapa begitu deh.

"Dua bulan, Bu."
"Oh, begitu ya. Lucu yaa."

Biasanya percakapannya itu saja. Kadang ditanya lagi laki-laki atau perempuan. Tetapi percakapannya singkat sekali. Setelah bertanya satu dua, mereka puas dan berjalan lagi.

Orang yang menyapa kebanyakan ibu-ibu, nenek-nenek dan juga ibu mudah yang membawa bayi sepertiku.

Waktu menunggu lift, ngantre di kasir atau di jalan, benar-benar sering disapa. Lagipula sekarang bayiku mudah senyum dan ramah tamah sama orang lain, kalau disapa dia langsung senyum, orang yang menyapa pun senang sekali.

Ada pengalaman berkesan di kereta beberapa bulan yang lalu.

Waktu bayiku jadi baru tiga bulan, aku dan suamiku pertama kali naik kereta membawa bayi ke Yokohama. Habis jalan-jalan di Yokohama, waktunya sudah agak sore, kereta yang menuju ke arah rumahku penuh sekali seperti biasa.

kami tidak bisa duduk. Suami menggendong bayi di depan dan aku membawa tas besar dan dorongan yang dilipat. Kebetulan sebelah kami pun suami-istri yang membawa bayi. Bayinya digendong suami.

Wajah bayinya dekat sama kami. kami meliriknya dan bisik dia berapa bulan ya... Beberapa menit kemudian, istri sebelah kami tiba-tiba bertanya sama kami.

"Bayinya berapa bulan sekarang?" Kayaknya mereka juga berminat sama bayiku.

Dari satu pertanyaan itu, kita mengobrol sampai turun kereta. Waktunya kira-kira 20 menit!

Di Jepang, di dalam kendaraan umum, biasanya orang tidak ajak bicara orang yang tak kenal. Kalau orang yang pernah tinggal di Jepang, pasti setuju pendapatku.

Memang kadang-kadang ditanya sesuatu, tapi topiknya bukan hal pribadi, misalnya apakah kereta ini ke Tokyo? dan pertanyaan itu tidak mungkin berkembang sampai percakapan pribadi.


Jadi, pengalaman ini benar-benar jarang loh. Kami tidak berani ajak bicara, tapi karena mereka menyapa, kita menikmati waktu di dalam kereta penuh. kami senang sekali bisa mengobrol sama mereka. Ini pengalaman hangat buat kami.

Setelah aku melahirkan, masyarakat mendekati aku dan keluargaku.

Sebelumnya, karena pindah rumah, tidak ada kenalan dan teman-teman di dekat, aku terasa sendirian. Hampir tidak ada kesempatan bercakap orang lain di luar rumah.

Tetapi, sekarang, kalau jalan-jalan sama bayi, banyak orang menyapaku. Bayi itu jadi permulaan percakapan kecil.

Hanya disapa orang lain, aku senang merasa baru diakui anggata komunitas.
Sebelumnya, aku merasa keberadaanku tidak diperhatikan walaupun aku tinggal di situ.

Selain aku, ibu yang lagi mengurus bayi itu pasti merasa sendirian. Karena mereka berhenti bekerja atau ambil cuti dan selalu ada di rumah, hubungan dengan masyarakat hampir tidak ada. Jadi, mungkin ada banayk ibu-ibu yang ingin berkomunikasi walaupun hanya singkat dan walaupun sama orang tak kenal.
Mulai sekarang aku juga coba ajak bicara deh kalau melihat ibu bersama bayi.

2 comments:

みかんちゃん said...

Wah.. kejadian seperti ini pasti jarang sekali ya bisa terjadi di Jepang, apalagi di kota besar, di dalam kendaraan umum lagi!

Ada berita, katanya di tempat umum ada orang yang mendekati ibu2 yang membawa bayi, bilang "bayinya kawaii" lalu minta ijin gendong. Begitu dikembalikan bayinya sudah dicubit sampai luka, ada juga yang sampai patah kaki. Mayu-san sudah dengar berita ini? Serem juga ya... Saya jadi takut kasih gendong bayi sama sembarangan orang, bisa jadi orang jahat?? Takuuuut..

mayu said...

iya, tahu! Seram ya.
Biasanya orang tak kenal tidak minta izin gendong bayi orang. Jadi kalau terasa sesuatu yang aneh, sebaiknya menolak.